Wednesday, May 5, 2010
Integrity
I'm reading a good book currently. Written by John C Maxwell. Knowing who the author is, you could guess what it is about.
Ah yes. leadership.
I was flabbergasted by what he wrote inside, thereby it took a long time to finish it. I haven't finished reading it by the way. Some I read times and times again. Now I've just read a chapter about integrity and it did open my narrow mind to a deeper understanding about what integrity really means. And I don't want to stop until here, understanding. I want to do it. A book is never gonna change your life unless you do what you read, isn't it? That what books are for I guess.
Sooo. Integrity.
It is a state of being you, real you. Being who you are no matter where you are and who you are with. Being consistent. Your words and your deeds all must match up.
Some people spend their time building an image. But it's not what it's supposed to be. Image is what others think you are, while integrity is what you really are. Image might fail, integrity last. Rather than struggling to create a good image, we better struggling to increase our character value. Yes it takes longer time, but it worths. People will see who we are not what we try to appear to be.
~
Are you the same person no matter who you're with?
Me? Not really.
The first time I went for my internship, I want to create a good impression. I don't want to be late, speak english fluently, and do all a good professional designer should do. I tried to ask many questions also. *and I was so quiet at office! it was so damn torturing me!! Not because I was shy or something. It's because I didn't know how to translate my thought into a good english. hahaha.
Anyway, what I did is not for the sake of impression only of course. I was just trying to be a good intern. Really. It's not that I pretended to be someone else. :)
But as time goes by, people will figure out who I really am, the value that I had. I started to come late for some times, not initiative, asking less questions. My english become broken2 english lahh. Even when the boss dictate me what to write, I often spelled the words wrongly. So then he spelled it for me outloud!
"EEH, 'across' is with a single 'C' lahh. not 'accross'. A-C-R-O-S-S!"
How humiliating. hahaa.
Okay, so the point is, if you want to get a good value, don't start on the time you got work. Start from now! What you are at work is a mirrored image of what you are daily. Trust me. Even if you pretend, it won't be long for others to know.
Then, about consistency. Do you do what you say?
Me? again, not everything.
Integrity means living it myself before leading others. You cannot bring someone to a place that you've never gone. If you want to make others better, make your self better first. Only then you can influence others. By words people understand, by action people believe. People believe to what they see. So, let's be a good model for them. :)
last, a quote from the book.
"Life is like a vise. At times it will squeeze us. At those moments of pressure, whatever is inside will be found out. We cannot give what we do not have."
Monday, May 3, 2010
Friday, April 30, 2010
Tukang Kain
Hari Jumat itu belum juga subuh, saya memperhatikan seorang anak muda yang tampan dan kekar, berjalan melewati gang-gang di kotaku. Ia mendorong sebuah gerobak tua berisi kain-kain baru dan berwarna cerah. Ia berteriak-teriak dengan suara tenornya yang jernih, teriaknya, "kain!"ah, suasana indah sekali dan sinar matahari baru menyapa, harmonis sekali dengan suaranya.
"Kain! Kain baru ditukar yang lama! Ambil kain usangmu! Kain!"
"Ini baru kejaiban," batinku, bagi seorang yang berdiri tegad dan dengan tangannya yang kekar, keras dan berotot, dan matanya memancarkan kepintarannya. Tidak dapatkah dia menemukan pekerjaan yang lebih baik dari ini, hanya sebagai tukang kain keliling.
Saya mengikutinya, keingintahuan mendorong saya, dan tidak mengecewakan.
Tak lama kemudian tukang kain itu melihat seorang wanita yang sedang duduk di beranda. Ia sedang menangis tersedu-sedu dengan sebuah sapu tangan di tangannya. Menutupi dan menampung ribuan tetes air mata. Posisi kaki dan sikunya membentuk posisi X, seolah ikut sedih. Bahunya bergetar. Hatinya hancur berantakan.
Tukang kain itu menghentikan langkahnya, perlahan ia mendekati wanita itu, melewati kaleng-kaleng dan mainan usang.
"Berikan kepada saya kainmu itu," katanya dengan lembut, "dan saya akan menukarnya dengan yang baru."
Ia menarik sapu tangan itu dari mukanya, ia melihat kearah anak muda itu, dan ia memberikan selembar kain linen baru di tangannya, sangat bersih bersih hingga seolah bersinar. Ia kemudian berkedip dan beralih dari pemberian ke arah pemberinya.
Anak muda itu kembali ke gerobaknya dan meneruskan perjalanannya, hal yang aneh terjadi kemudian, ia mengusapkan sapu tangan itu ke wajahnya, dan setelah itu ia mulai menangis. Menangis tersedu-sedu, seperti wanita itu sebelumnya sehingga bahunya bergetar. Wanita yang ditinggal itu berhenti menangis.
"Ini sebuah keajaiban," saya membatin, dan saya terus mengikuti tukang kain yang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang ketakutan.
"Kain!Kain!Kain baru ditukar dengan kain usang!," seru anak muda itu. Beberapa waktu kemudian, ketika langit mendung terlihat di atas atap rumah, saya seperti melihat korden usang tergantung di sebuah jendela yang gelap. Tukang kain itu mendatangi seorang perempuan muda yang kepalanya dibungkus perban. Mata perempuan muda itu kosong. Perbannya dipenuhi darah. Segaris darah terlihat menetes di pipinya.
Tukang kain itu memandang perempuan muda itu dengan sedih, kemudian ia mengambil sebuah topi kuning bertali yang indah dari gerobaknya.
"Berikan kepada saya kainmu itu," katanya, sambil mengelap jejak darah yang mulai mengering di pipinya, "dan saya tukar dengan yang baru."
Perempuan muda itu hanya dapat terpana ketika anak muda itu melucuti perbannya dan kemudian mengikatnya kembali di kepalanya sendiri. Sebagai gantinya ia memasangkan topi itu di kepalanya, saya tercekat melihat yang terjadi: bersamaan dengan berpindahnya perban begitu juga lukanya. Alisnya menjadi gelap, meleleh darah-darahnya sendiri.
"Kain!Kain! Tukarkan kain usangmu dengan yang baru," serunya sambil menangis, dan berdarah, tanpa kehilangan kekuatannya dan kecerdasannya.
Matahari melukai langit dan sekarang mata saya; entah kenapa tiba-tiba tukang kain itu menjadi terburu-buru dan makin terburu-buru.
"Apakah anda hendak pergi bekerja?" ia bertanya kepada seorang pria yang bersandar di tiang telepon. Kepalanya menggeleng.
Tukang kain itu terus bertanya, "apakah kamu mempunyai pekerjaan?"
"Kamu ini gila atau apa? Jawab orang itu dengan sinis. Ia kemudian berdiri tegak dan menunjukkan lengan kanan jaketnya - rata, ujung lengannya dimasukkan ke kantong. Ia buntung.
"Jadi," kata tukang kain, "berikan kepada saya jaketmu dan akan saya berikan jaket saya kepadamu."
Suaranya penuh wibawa-saya sampai tergetar melihat apa yang saya lihat. Orang bertangan satu itu mencopot jaketnya, begitu juga si tukang kain. Tangan tukang kain itu tetap tinggal di jaketnya dan ketika dikenakan kemudian orang buntung itu mempunyai dua buah tangan yang sehat, tebal setebal dahan pohon tetapi tukang kain itu hanya memiliki satu lengan saja jadinya.
"Pergilah bekerja," katanya.
Setelah itu ia bertemu dengan seorang yang mabuk, tergeletak tak sadarkan diri diselimuti selimut yang bermotif loreng tentara. Seorang tua mabuk dan sakit. Anak muda itu kemudian mengambil selimut itu dan dipakainya untuk menyelimuti dirinya dan untuk orang tua itu ia meninggalkan baju baru.
"Sekarang saya harus bisa mengimbangi tukang kain itu." Sekalipun ia sambil menangis, limbung, dan darah mengalir deras dari dahinya, ia tetap menarik gerobaknya dengan satu tangan. Mencoba bertahan dari mabuknya jatuh dan terjatuh lagi, kelelahan, tua dan sakit. Sekalipun demikian, ia terus berjalan dengan kecepatan tinggi. Seolah berkaki banyak seperti laba-laba, ia merambat dengan cepat melewati lorong-lorong di kota, terus berjalan sampai akhirnya ia mencapai batasnya dan terhenti.
Saya menangis melihat perubahan yang terjadi terhadap anak muda ini. Saya sungguh terluka melihat kesedihan tetapi saya harus tetap bertahan karena saya perlu mengetahui kemana ia menuju dengan tergesa-gesa, paling tidak mengetahui apa yang mendorongnya.
Tukang kain itu tiba di sebuah tempat pembuangan akhir sampah. Ia mendekati sebuah lobang sampah. Sebenarnya saya ingin membantu tapi kemudian saya urung dan kembali bersembunyi. Dengan susah payah ia membersihkan sepetak tanah di bukit itu. Ia mengambil nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya. Ia menggunakan sapu tangan dan jaket sebagai bantalnya. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut loreng tentara. Ia mati.
Oh, saya menjadi saksi sebuah kematian. Saya tersungkur kedalam sebuah mobil tua dan menangis dan menjerit seperti seorang sudah kehilangan harapan - karena saya jadi mencintai tukang kain itu, semua keburukan telah menghilang didalam keajaiban orang ini dan saya memujanya; tapi ia mati. Saya menangis tersedu-sedu sampai tertidur.
Saya tidak tahu - bagaimana mungkin saya tahu? - bahwa saya telah tertidur sejak jumat malam, Sabtu, dan malam itu juga.
Tapi kemudian, hari Minggu pagi saya dibangunkan dengan paksa.
Sinar-murni, tajam, cahaya yang menuntut-menampar mukaku yang lelah dan saya mengedip, melihat sebuah akhir dari awal keajaiban.
Tukang kain itu melipat selimutnya dengan sangat rapi, codet di dahinya hilang, dan ia hidup. Sehat. Tidak ada tanda-tanda ketuaan dan semua kain yang telah ia kumpulkan bersinar karena bersihnya.
Saya menunduk dan menggigil atas semua yang telah saya saksikan. Saya berjalan mendekat ke arahnya. Saya memperkenalkan nama saya dengan malu, karena saya adalah figure yang memalukan didepannya.
Saya kemudian mencopot seluruh baju yang saya pakai dan berkata kepadanya, "dandanilah saya".
Ia mendandani saya. Tuhanku Ia memakaikan kain baru diatas saya dan saya menjadi keajaiban disampingnya. Tukang kain, Sang Kristus. (-Walter Wangerin-)
Untuk direnungkan :
1. Saya telah didandani dan memakai kain baru..akankah saya melakukan hal-hal yang dapat mengotori kain dan merusak dandanan baru saya?
2. Untuk setiap penderitaan yang telah ditanggung olehNya karena saya, akankah saya masih mengecewakan Dia?
Suatu renungan singkat untuk direnungkan. Dia sabar menunggu kok hingga kamu berbalik dan masuk dalam pelukanNya. Tapi.... jangan karena tahu Dia sabar, malah jadi kelamaan dan menunda ya...
Bagus ya. Ini gw dapet dari sebuah blog orang lain. hehe. Mungkin sampe tengah pun pas kita baca, udah dapet gambaran kalo si tukang kain itu Tuhan Yesus. Dia yang ambil setiap penderitaan kita dan menanggungnya. Baik bangett. :)
God bless y'all.
"Kain! Kain baru ditukar yang lama! Ambil kain usangmu! Kain!"
"Ini baru kejaiban," batinku, bagi seorang yang berdiri tegad dan dengan tangannya yang kekar, keras dan berotot, dan matanya memancarkan kepintarannya. Tidak dapatkah dia menemukan pekerjaan yang lebih baik dari ini, hanya sebagai tukang kain keliling.
Saya mengikutinya, keingintahuan mendorong saya, dan tidak mengecewakan.
Tak lama kemudian tukang kain itu melihat seorang wanita yang sedang duduk di beranda. Ia sedang menangis tersedu-sedu dengan sebuah sapu tangan di tangannya. Menutupi dan menampung ribuan tetes air mata. Posisi kaki dan sikunya membentuk posisi X, seolah ikut sedih. Bahunya bergetar. Hatinya hancur berantakan.
Tukang kain itu menghentikan langkahnya, perlahan ia mendekati wanita itu, melewati kaleng-kaleng dan mainan usang.
"Berikan kepada saya kainmu itu," katanya dengan lembut, "dan saya akan menukarnya dengan yang baru."
Ia menarik sapu tangan itu dari mukanya, ia melihat kearah anak muda itu, dan ia memberikan selembar kain linen baru di tangannya, sangat bersih bersih hingga seolah bersinar. Ia kemudian berkedip dan beralih dari pemberian ke arah pemberinya.
Anak muda itu kembali ke gerobaknya dan meneruskan perjalanannya, hal yang aneh terjadi kemudian, ia mengusapkan sapu tangan itu ke wajahnya, dan setelah itu ia mulai menangis. Menangis tersedu-sedu, seperti wanita itu sebelumnya sehingga bahunya bergetar. Wanita yang ditinggal itu berhenti menangis.
"Ini sebuah keajaiban," saya membatin, dan saya terus mengikuti tukang kain yang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang ketakutan.
"Kain!Kain!Kain baru ditukar dengan kain usang!," seru anak muda itu. Beberapa waktu kemudian, ketika langit mendung terlihat di atas atap rumah, saya seperti melihat korden usang tergantung di sebuah jendela yang gelap. Tukang kain itu mendatangi seorang perempuan muda yang kepalanya dibungkus perban. Mata perempuan muda itu kosong. Perbannya dipenuhi darah. Segaris darah terlihat menetes di pipinya.
Tukang kain itu memandang perempuan muda itu dengan sedih, kemudian ia mengambil sebuah topi kuning bertali yang indah dari gerobaknya.
"Berikan kepada saya kainmu itu," katanya, sambil mengelap jejak darah yang mulai mengering di pipinya, "dan saya tukar dengan yang baru."
Perempuan muda itu hanya dapat terpana ketika anak muda itu melucuti perbannya dan kemudian mengikatnya kembali di kepalanya sendiri. Sebagai gantinya ia memasangkan topi itu di kepalanya, saya tercekat melihat yang terjadi: bersamaan dengan berpindahnya perban begitu juga lukanya. Alisnya menjadi gelap, meleleh darah-darahnya sendiri.
"Kain!Kain! Tukarkan kain usangmu dengan yang baru," serunya sambil menangis, dan berdarah, tanpa kehilangan kekuatannya dan kecerdasannya.
Matahari melukai langit dan sekarang mata saya; entah kenapa tiba-tiba tukang kain itu menjadi terburu-buru dan makin terburu-buru.
"Apakah anda hendak pergi bekerja?" ia bertanya kepada seorang pria yang bersandar di tiang telepon. Kepalanya menggeleng.
Tukang kain itu terus bertanya, "apakah kamu mempunyai pekerjaan?"
"Kamu ini gila atau apa? Jawab orang itu dengan sinis. Ia kemudian berdiri tegak dan menunjukkan lengan kanan jaketnya - rata, ujung lengannya dimasukkan ke kantong. Ia buntung.
"Jadi," kata tukang kain, "berikan kepada saya jaketmu dan akan saya berikan jaket saya kepadamu."
Suaranya penuh wibawa-saya sampai tergetar melihat apa yang saya lihat. Orang bertangan satu itu mencopot jaketnya, begitu juga si tukang kain. Tangan tukang kain itu tetap tinggal di jaketnya dan ketika dikenakan kemudian orang buntung itu mempunyai dua buah tangan yang sehat, tebal setebal dahan pohon tetapi tukang kain itu hanya memiliki satu lengan saja jadinya.
"Pergilah bekerja," katanya.
Setelah itu ia bertemu dengan seorang yang mabuk, tergeletak tak sadarkan diri diselimuti selimut yang bermotif loreng tentara. Seorang tua mabuk dan sakit. Anak muda itu kemudian mengambil selimut itu dan dipakainya untuk menyelimuti dirinya dan untuk orang tua itu ia meninggalkan baju baru.
"Sekarang saya harus bisa mengimbangi tukang kain itu." Sekalipun ia sambil menangis, limbung, dan darah mengalir deras dari dahinya, ia tetap menarik gerobaknya dengan satu tangan. Mencoba bertahan dari mabuknya jatuh dan terjatuh lagi, kelelahan, tua dan sakit. Sekalipun demikian, ia terus berjalan dengan kecepatan tinggi. Seolah berkaki banyak seperti laba-laba, ia merambat dengan cepat melewati lorong-lorong di kota, terus berjalan sampai akhirnya ia mencapai batasnya dan terhenti.
Saya menangis melihat perubahan yang terjadi terhadap anak muda ini. Saya sungguh terluka melihat kesedihan tetapi saya harus tetap bertahan karena saya perlu mengetahui kemana ia menuju dengan tergesa-gesa, paling tidak mengetahui apa yang mendorongnya.
Tukang kain itu tiba di sebuah tempat pembuangan akhir sampah. Ia mendekati sebuah lobang sampah. Sebenarnya saya ingin membantu tapi kemudian saya urung dan kembali bersembunyi. Dengan susah payah ia membersihkan sepetak tanah di bukit itu. Ia mengambil nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya. Ia menggunakan sapu tangan dan jaket sebagai bantalnya. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut loreng tentara. Ia mati.
Oh, saya menjadi saksi sebuah kematian. Saya tersungkur kedalam sebuah mobil tua dan menangis dan menjerit seperti seorang sudah kehilangan harapan - karena saya jadi mencintai tukang kain itu, semua keburukan telah menghilang didalam keajaiban orang ini dan saya memujanya; tapi ia mati. Saya menangis tersedu-sedu sampai tertidur.
Saya tidak tahu - bagaimana mungkin saya tahu? - bahwa saya telah tertidur sejak jumat malam, Sabtu, dan malam itu juga.
Tapi kemudian, hari Minggu pagi saya dibangunkan dengan paksa.
Sinar-murni, tajam, cahaya yang menuntut-menampar mukaku yang lelah dan saya mengedip, melihat sebuah akhir dari awal keajaiban.
Tukang kain itu melipat selimutnya dengan sangat rapi, codet di dahinya hilang, dan ia hidup. Sehat. Tidak ada tanda-tanda ketuaan dan semua kain yang telah ia kumpulkan bersinar karena bersihnya.
Saya menunduk dan menggigil atas semua yang telah saya saksikan. Saya berjalan mendekat ke arahnya. Saya memperkenalkan nama saya dengan malu, karena saya adalah figure yang memalukan didepannya.
Saya kemudian mencopot seluruh baju yang saya pakai dan berkata kepadanya, "dandanilah saya".
Ia mendandani saya. Tuhanku Ia memakaikan kain baru diatas saya dan saya menjadi keajaiban disampingnya. Tukang kain, Sang Kristus. (-Walter Wangerin-)
Untuk direnungkan :
1. Saya telah didandani dan memakai kain baru..akankah saya melakukan hal-hal yang dapat mengotori kain dan merusak dandanan baru saya?
2. Untuk setiap penderitaan yang telah ditanggung olehNya karena saya, akankah saya masih mengecewakan Dia?
Suatu renungan singkat untuk direnungkan. Dia sabar menunggu kok hingga kamu berbalik dan masuk dalam pelukanNya. Tapi.... jangan karena tahu Dia sabar, malah jadi kelamaan dan menunda ya...
Bagus ya. Ini gw dapet dari sebuah blog orang lain. hehe. Mungkin sampe tengah pun pas kita baca, udah dapet gambaran kalo si tukang kain itu Tuhan Yesus. Dia yang ambil setiap penderitaan kita dan menanggungnya. Baik bangett. :)
God bless y'all.
Tuesday, April 27, 2010
Ternyata saya banyak penggemar!

Liat deh liat deh!
Ada yang bilang ika i lop yuh! Sampe nulis di joknya rapid kl. Aduh jadi malu deh sampe diabadikan gitu biar seluruh dunia melihat. hahaha lebai. Geli banget. Saya ga tau tapi yang nulis ini abang-abang atau orang ganteng, yang jelas bukan orang elit. Karena orang elit ga mungkin nulis-nulis di kursi bus (atau bahkan mereka ga naik bus!). hohohoho.
Cihuy. banyak yg nge-pens sama saye!
By the way sebenernya ini sih yang pasti bukan ika saya. cuma ga sengaja nemu di bus. jadi saya foto aja deh.
Candy Tale
Faces-2
Dan ini yang paling saya suka entah mengapa. Gambar seorang anak perempuan pakistan, dari fotonya Steve McCurry. Foto-fotonya dia emang bener-bener keren!

Gambar ini gw buat pas jaman semester 3, diajar oleh guru yang sangat oke berlogat spanyol italiano bernama Ernesto. Dia bilang.. "Not bad".
Sebenernya dia guru yang sangat oke dan disiplin buat di limkokwing, meskipun tugasnya seabrek-abrek. Dia juga satu-satunya guru limkok yang mengunci kelas kalau udah telat. Sayangnya ga lama dia keluar, jadi udah ga pernah diajarin lagi. Hilanglah lagi satu guru berbobot di limkok.

Gambar ini gw buat pas jaman semester 3, diajar oleh guru yang sangat oke berlogat spanyol italiano bernama Ernesto. Dia bilang.. "Not bad".
Sebenernya dia guru yang sangat oke dan disiplin buat di limkokwing, meskipun tugasnya seabrek-abrek. Dia juga satu-satunya guru limkok yang mengunci kelas kalau udah telat. Sayangnya ga lama dia keluar, jadi udah ga pernah diajarin lagi. Hilanglah lagi satu guru berbobot di limkok.
Faces
Taken from my sketch book. Again, it was done when I was at the earlier semester. arrrghhh. Really want to do it again.










o yeah..

tante galak yang bersemayam di majalah.

dari majalah jg nih. iklan..

tante-tante ahuy lagi. emang hobi gambar tante-tante neh ya.

What goes around comes around.

My sister and I.

My mom and her lovely doll. :)
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

